sepenggal puisi ASMARADANA

Mereka berkuda sepanjang malam,

sepanjang pantai terguyur garam.

Si bapak memeluk dan si anak dingin,

menembus kelam dan gempar angin.

 

Adakah sekejap anak tertidur,

atau takutkan ombak melimbur?

“Bapak, aku tahu langkah si hantu,

ia memburuku di ujung itu.”

 

Si bapak diam meregang sanggurdi,

merasakan sesuatu akan terjadi.

“Kita teruskan saja sampai sampai,

sampai tak lagi terbujur pantai.”

 

“Tapi ‘ku tahu apa nasibku,

lepaskanlah aku dari pelukmu.”

“Tahanlah, buyung, dan tinggallah diam,

mungkin ada cahaya tenggelam.”

 

Namun si hantu tak lama nunggu:

dilepaskannya cinta (bagai belenggu).

Si anak pun terbang ke sebuah cuaca:

“Bapak, aku mungkin kangen di sana.”

####Judul : Asmaradana####

Penulis : Goenawan Mohamad

Cetakan : I, 1992

Penerbit : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo), Jakarta

Tebal : viii + 152 halaman ( 84 puisi)

ISBN : 979-553-118-2

Kata Penutup : A. Teeuw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: